Metro

Sumur Warga Dusun Pandisari Sawo Kutorejo Tercemar Limbah

Mojokerto, nets9.com – Beberapa sumur milik warga Dusun Pandisari RT 01, RW 08, Desa Sawo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto tercemar limbah. Diduga limbah itu berasal dari salah satu gudang yang disinyalir untuk budidaya maggot.

Aslikha, salah satu warga yang sumurnya tercemar mengatakan, dirinya meminta keadilan, pasalnya sumur miliknya sekarang, airnya sudah berubah warna dan juga keluar bau tidak sedap.

“Airnya berubah warna dan bau sejak ada gudang itu,” tandasnya, saat ditemui di kediamannya, Kamis (17/7/2025).

Selain baunya tidak sedap dan keluar minyak, lanjut Aslikha, bila di buat mandi membuat kulit gatal-gatal.

“Saya dan keluarga kalau mandi dan wudhu, harus beli air galon, yang sehari bisa menghabiskan sampai 14 galon,” tambahnya.

Menurutnya, sudah 20 tahun air sumur miliknya tidak bermasalah, sejak ada gudang yang tidak jauh dari rumahnya itu, baru muncul bau dan keruh.

Sementara itu, Pemerintahan Desa (Pemdes) Sawo juga memanggil pihak pemilik gudang, untuk mediasi dengan warga di balai desa setempat serta mengundang Forkopimcam Kutorejo.

Ditemui usai mediasi, Nur, pemilik gudang budidaya maggot, mengaku hanya orang lapangan bukan pemilik gudang budidaya Maggot.

Disinggung terkait logo Abdi Negara Corp Marinir Republik Indonesia yang menempel di gudang, ia mengatakan bahwa itu yang punya rumah.

“Mungkin yang punya rumah itu, jadi saya disitu cuma kerja. Sudah tidak produksi.

“Disitu itu saya kan punya usaha bikin soto, kakak saya bikin warung soto, ada sisa-sisa makanan lalu saya kumpulin untuk pakan mentok, untuk dikummpulin dan ditempatkan di tong,” jelasnya

Nur juga mengatakan kalau ia hanya pekerja, bukan pemilik.

“Saya hanya dilapangan saja bukan pemilik. Pemiliknya Angkatan Laut, namanya Pak Basuki, kalau tidak salah, dinas di Jakarta,” pungkasnya sambil buru-buru pergi meninggalkan balai desa.

Nur Kholis, Kepala Desa Sawo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto mengatakan, sebelum adanya gudang pabrik itu, lingkungan tidak pernah ada gejolak semacam ini.

“Nama perusahaan itu, saya tidak tahu, tidak pernah izin ke Desa. Begitu saya cek kedalam memang ada bekas penggilingan dan barang-barang bekas dari pabrik apa gitu, seperti drum-drum besar,” jelas Kolis. (N9)